Bisnis Fesyen Muslim Tak Pernah Padam Dream – Semilir sejuk pendingin udara di lantai 5 pusat perbelanjaan Thamrin City, mengusir cuaca panas di luar gedung yang kerontang pekan lalu. Di sebuah sudut lantai gedung di Jakarta Pusat itu, deretan hijab dengan berbagai motif terpajang rapi di sebuah kios. Di kios berukuran 10 meter x 2 meter Grosir bros jilbab itu, sederet pakaian muslim wanita, mulai dari gamis, abaya, rok, dan blus longgar, seolah berlomba-lomba menarik mata pengunjung untuk mampir. Di bagian atas kios, tulisan ‘Yoya Hijab’ terpampang begitu jelas. Tercetak di atas papan dengan corak warna warni.. Masuk ke dalam kios, seorang pria tengah duduk dengan santai sembari menatap
ke tiga orang wanita yang sibuk di dalam kiosnya. Saat disapa, pria itu lantas menoleh. Dia kemudian memperkenalkan diri. Namanya Yoki Ferdian. Umurnya baru 31 tahun. Dia mengaku sebagai pemilik kios ‘Yoya Hijab’ itu. Sesaat kemudian, Yoki mengajak pindah ke kios yang terletak hanya beberapa blok dari tempat duduknya semula. Di lokasi baru itu, dia mengatakan kios itu juga miliknya. Tampilannya tidak jauh berbeda dengan kios sebelumnya, penuh dengan pakaian muslim dengan pelbagai motif. “Di sini dijadikan pusatnya, istilahnya kantor kita, Yoya Hijab. Di sini, karyawan selain jualan, menjalankan promo di media sosial melalui internet dan website,” ujar Yoki saat
berbincang dengan Dream. Kepada Dream, Yoki mengisahkan bagaimana dia terjun dunia bisnis dengan berjualan hijab. Usaha itu dia mulai pada 2012. Sebelumnya dia hanyalah tenaga penjual kain lepas di sebuah toko kain terkemuka. Di situ dia kerap keluar masuk Pasar Grosir Tanah Abang dan Mal Thamrin City menawarkan kain-kain dagangannya. Aktivitas itu dia jalani selama sembilan tahun, terhitung sejak 2003. Di tahun 2012, dia kemudian meminang wanita bernama Yani dan kemudian memutuskan untuk berhenti menjadi tenaga penjual kain dan beralih menjadi produsen pakaian muslim. Untuk memulai bisnisnya, Yoki butuh modal sekitar Rp30 juta yang dia dapat dari menggadaikan motor hasil
jerih payahnya sebagai tenaga penjual kain lepas serta pinjaman bank. “Pertama butuh modal Rp 30 juta untuk kontrak toko satu tahun. Sempat gadaikan motor Rp20 juta untuk kontrak toko. Karena ngontrak satu tahun Rp 30 juta, kurang Rp 10 juta. Lalu pinjam ke bank selama 6 bulan. Modalnya nekad buat modal jualan,” kata Yoki. Hingga kini, terhitung sudah tiga tahun Yoki menjalankan bisnisnya. Dia mengaku merasa tersulut untuk kreatif membuat strategi penjualan. Pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 April 1984 ini menyadari dunia maya memiliki peran besar terhadap kesuksesan sebuah usaha. Hal itu mendorong dia membuat strategi berjualan secara online.
Alhasil, barang dagangannya begitu diminati. Bahkan, peminat produk miliknya bukan hanya dari dalam negeri, melainkan hingga mancanegara. “Pemasaran, Alhamdulillah sudah ke Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga ke Australia,” ungkap dia. Lezatnya bisnis fesyen muslim juga dirasakan oleh Firenzia Soetantio. Wanita berusia 28 tahun yang kerap disapa Zifa ini memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta terkemuka dan berjualan pakaian muslim. Keputusan itu dia ambil di tahun 2010 setelah menikah. “Tadinya kerja kantoran biasa. Kata suami buat usaha. Akhirnya cari kegiatan yang aku suka, fashion. Lalu bisnis hijab dan busana muslim ini,” tutur Zifa. Beruntung, kala itu
fesyen hijab tengah naik daun. Hal itu membawa dampak terhadap bisnis Zifa, yang telah memiliki gerai di lantai 1 Blok C pusat perbelanjaan Thamrin City ini. “Coba buka di sini, Thamrin City pas lagi musim hijaber lagi naiknya. Alhamdulillah berjalan bagus,” terang Zifa. Zifa mengaku pemasaran produknya memang tidak sampai merambah negeri seberang. Tetapi, lantaran menempatkan diri sebagai pedagang grosir, Zifa tetap bisa merasakan kenikmatan bisnis fashion hijab. Dagangannya banyak diserap di luar daerah, terutama Sumatera dan Kalimantan. Meski demikian, Zifa mengaku pendapatan yang diperolehnya selalu fluktuatif seiring berjalannya waktu. Di tahun awal membuka usaha, ratusan Bros jilbab handmade juta rupiah mampu dia
hasilkan. Tetapi, permintaan cenderung menurun dalam dua tahun terakhir. “Sekarang, jujur, pasarnya lagi sepi kira-kira dua tahun ini. Tapi cukup Alhamdulillah. Kurang lebih Rp50 juta keuntungan bisa didapat setiap bulan,” tutur Zifa.
Bisnis Fesyen Muslim Tak Pernah Padam
No comments:
Post a Comment